08 Oktober 2009

..:SiaPa DaLaM iSTiKHaRaHku???:..

Salam ukhuwwah dan salam kasih sayang. moga redha-Nya sentiasa bersama kita.
Alhamdulillah, Allah memberi kelapangan waktu untuk ana hadir dalam program anjuran Helwa PMAPIUM kali ini. Saat hati berkecamuk dan telah menganggu sahabat-sahabat(jazakumullahu khairan kathira,sudi layan soalan yg ntah ape2) dengan persoalan mengenai persoalan istikharah, ana menerima undangan ke program ini. Allahuakbar!
Pertamanya, panel yang diundang membuat ana makin teruja untuk ikut serta talk ini. sdri Fatimah Syarha, penulis novel islami yang amat ana kagumi. namun, di saat akhir beliau tidak memberi komitmen atas urusan yang tak dapat dielakkan.tempat beliau diganti oleh ust Dzulkhairi Md Noor, satu sosok insan yang juga ana amat hormati.
Di awal majlis lagi telah dijelaskan, istikharah bukan hanya dalam soal mencari pasangan hidup. malah sepatutnya ia dilakukan dalam segenap hal. kerana matlamat hidup seorang insan itu adalah untuk mendapatkan REDHA Allah. ana memetik kata ukhti Musayyadah"Terima apa yang Allah tetapkan...terima apa yang Allah beri...Terima dengan Redha Ilahi.."
Ditambah dengan cerita yang ust Dzul bawakan, ana makin memahami erti istikharah yang sebenarnya.sebelum ini, ana hanya mendengar pesan Dato' Dr. Fadzilah Kamsah supaya mengamalkan solat sunat istikharah setiap malam sebelum tidur. Dan malam ini bila Prof Madya Mohamad Kamil dan Ust Dzul menjelaskan persoalan istikharah ini ianya semakin jelas.Alhamdulillah...
"Tidak menyesal bagi orang yang bermesyuarat dan tidak rugi bagi orang yang beristikharah", kata-kata yang diungkapkan oleh ust Dzul ini dijelaskan dengan terperinci oleh Prof Madya Mohamad Kamil dengan mengatakan bahawa 'mesyuarat itu adalah perbincangan antara kita dengan keluarga ataupun rakan-rakan, manakala 'istikharah' pula urusan kita dengan Yang Maha Pencipta. Lengkaplah sebuah kehidupan bila hablul minallah dan juga hablul minannas dijaga. Istikharah dilakukan hanyalah bilamana perlu membuat pilihan antara benda baik. jika salah satunya buruk, maka saat itu...istikharah tidak perlu dalam membantu memilih kerana pastinya kita akan memilih yang baik.
walaupun dikalangan audiens membangkitkan persoalan mengenai istikharah dalam pemilihan pasangan, ada juga yang menyedari kepentingan istikharah dalam urusan hidup yang lain. ana lantas teringat pesan ayah' jika kita betul mengharapkan keberkatan dalam kehidupan, beristikharahlah dalam apa juga keputusan biarpun ianya hanya keputusan dalam hal-hal kecil.
hasil perbincangan dengan sahabat, majoriti mengatakan jawapan istikharah tanya pada hati, kalau tenteram insyaAllah baik, kalau gelisah itu tandanya tidak baik, namun syarat utama perlu lulus dulu...apa?HATI MESTI BERSIH...insyaAllah.
kata Prof Madya Mohamad Kamil lagi, usai istikharah berpeganglah dengan ayat Allah..."Apabila kamu telah berazam, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal".-surah Ali Imran:159
ana temui satu artikel yang ana ingin kongsikan dengan semua.moga hidup kita lebih terarah menuju redha-Nya...insyaAllah.
**kata ust Dzul, muslimat mengambil masa yang agak lama dalam soal istikharah.kenapa ya?
wallahua'lam...

...Temukan pilihan terbaik dalam istikharahmu...

Dalam kehidupan di dunia, kita sering dihadapkan oleh beragam pilihan dalam bentuk keputusan. Apakah dalam masalah jodoh, pekerjaan, pendidikan, urusan rumah tangga dan hampir segala aspek kehidupan. Dan yang perlu diketahui bahwa yang namanya pilihan bukan hanya melulu kita memilih satu diantara dua, tiga dan seterusnya. Misalnya memilih A atau B. Tapi bisa juga memilih itu hanya A saja. Tapi tetap saja itu pilihan karena memilih A, ya atau tidak.
Dalam hal pilih-memilih pastilah kita menginginkan pilihan yang terbaik. Jangan sampai kita salah memilih karena akan berdampak atau beresiko dikemudian hari. Kalau ternyata pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang tepat beruntunglah kita.Tapi bagaimana kalo pilihan yang kita ambil salah yang berabe lah semuanya. Tapi yang perlu diperhatikan pilihan itu sebaiknya juga terbaik menurut Allah. Karena kadang kita sebagai manusia sering hanya ingin memilih yang kita anggap enak, indah dan mudah untuk dijalanin. Padahal belum tentu yang indah dan mudah itu adalah yang terbaik menurut kita.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. ( QS Al Baqarah : 216 )
Rasulullah menganjurkan kita untuk sholat Istikharah. Menurut artikel yang pernah saya baca kata Istikharoh berasal atau berakar dari kata ” khiyarah” ( Pilihan ). Sholat Istikharah bisa dikatakan sebagai usaha untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik dengan cara memohon petunjuk kepada Allah lewat shalat. Selain memohon petunjuk yang terbaik kepada Allah, sholat istikharah juga dapat digunakan untuk meyakinkan keputusan kita. Ketika kita bimbang atau ragu-ragu dengan pilihan kita sholat Istikharah dengan memohon ketetapan hati sangat dianjurkan.
Syarat utama dalam sholat istikharah salah satunya adalah harus netral. Maksud netral disini hati kita benar-benar tidak condong kemanapun. Tidak memihak pilihan manapun. Karena jika beristikharah namun hati kita masih memihak pada salah satu pilihan kita maka hasilnyapun akan semu atau ragu. Mungkin itu hanya bisikan setan atau bahkan karena nafsu kita saja yang hanya menginginkan sesuatu yang kelihatannya baik untuk kita. Selain hati kita harus benar-benar bersih ketika sholat istikharah kita haruslah Ikhlas. Mengapa? Karena bisa jadi setelah kita sholat keputusan atau pilihan dari Allah adalah sesuatu yang mungkin tidak kita harapkan. Untuk itu kita harus ikhlas apapun yang telah menjadi pilihan kita. Percayalah bahwa Allah menciptakan sesuatu tidak lah untuk sia-sia belaka. Pasti ada hikmah di dalamnya, jika kita beriman kepada-Nya.
"Salah satu dari kebahagiaan anak Adam adalah menyerahkan pilihannya kepada Tuhan-Nya, dan keridhaannya terhadap ketentuan. Dan salah satu kesengsaraan Bani Adam adalah meninggalkan istikharahnya kepada Allah ta'ala dan membenci setelah adanya ketentuan." (HR Abu Asy-Syaikh Ibnu Hibban, Al-Ashbahani dan Al-Bazzar).
Hasil dari sholat Istikharah bermacam-macam. Ada beberapa yang mengatakan lewat mimpi, ada juga lewat ketetapan hati dan juga ada yang jalannya atau urusannya dimudahkan oleh Allah. Seperti yang terlantun dalam doa Istikharah yang antara lain :
“ Ya Allah, Berikanlah pilihanMu dengan ilmuMu, berikanlah keputusanMu dengan kekuasaanMu, berikanlah nikmat yang agung dariMu. Engkau yang Maha Menguasai sedangkan aku tidak. menguasai apapun, Engkau yang Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui apapun. Ya Rabb jika urusan ini memang yang terbaik untuk hidupku di duniaku maupun diakhiratku maka mudahkan dan dekatkan padaku. Namun jika urusan ini memang buruk untuk hidupku di duniaku dan akhiratkumaka jauh kan dariku dan gantilah dengan yg lebih baik".
Ketika kita bimbang, ragu akan semua masalah yang menghimpit kita. Ambillah air wudhu, dirikan 2 rakaat sholat sunnat Istikharah dan serahkan semuanya kepada Allah azza wa jalla yang menguasai hidup kita, yang menggenggam hati kita, satu-satunya tempat bermohon dan sebaik-baiknya tempat berlindung. Semoga Allah memilihkan yang terbaik dalam hidup kita, di dunia dan akhirat. Karena pilihan Allah pastilah yang terbaik untuk hambanya. Amin

06 Oktober 2009

JaNGaN DiTaNGiSi aPa YaNG BuKaN MiLiKmu..

Salam ukhuwwah dan salam kasih sayang. salam ketenangan di pertengahan Syawal. moga minda lebih positif mendepani jaluran kehidupan yang berliku-liku...ana sertakan artikel yang ada dapat daripada rakan.harapnya bahasa yang terarah lebih kepada dialek indonesia tidak merumitkan sahabat-sahabat untuk memahami artikel ini...insyaAllah.

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan pada ketenteraman jiwa.
Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang.
Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki.
Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya."Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat mencintainya." Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)
Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan pada ketenteraman jiwa.Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya."Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat mencintainya." Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)
Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.
Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

02 Oktober 2009

...KeRaNa aKu iNSaN BiaSa...

Saat kata-kata tak punya makna
biar letih bibir
menutur kata
tetap tidak berguna
saat diri hilang hak
membela...mempertahan diri
tiada erti lagi airmata
walau selaut dicurahkan
dimana perginya simpati
kemana hilang belas kasihan
luputnya persefahaman
kepentingan diri diutamakan
perasaan sendiri difikirkan
bagaimana harus aku katakan
bahawa aku cuma manusia biasa
alpa..lalai..leka..dan
lupa itulah fitrahku
yang aku pinta bukan
sindiran atau cemuhan
tapi teguran..nasihat berhikmah
yang mampu mengejutkan aku
dari kealpaan dan salah langkah
kerana aku
tiada upaya untuk sentiasa melihat
dan merasa
setiap tindakanku yang adakalanya
di luar batasan
andai kata maaf
mampu menjernih suasana
mengembalikan kemesraan
ku susun jari sepuluh
dengan kerendahan hati
ku pohon ampun maaf
kemaafan itu harapnya menjadi milikku
kerana aku insan biasa
yang punya rasa dan jiwa...

16 September 2009

:.:TiTiPaN MeSRa MeNJeLaNG HaRi KeMeNaNGaN:.:



Salam ukhuwwah dan salam kasih sayang.Salam kesayuan menjelang berlabuhnya tirai Ramadhan. apakah akan ada lagi Ramadhan untuk ana dan kita nanti. Ramadhan kali ini sangat bermakna. Ramadhan terakhir ana sebagai seorang pelajar. Masa di isi sebanyak mungkin dengan program yang mampu mengukir satu kenangan indah bilamana ana tidak lagi disini kelak. Ramadhan yang agak berbeza bilamana ana dan sahabat mampu mengisinya dengan kemanisan ukhuwwah yang sejati. dan hari ini, kami akan membawa haluan masing-masing untuk pulang ke kampung. bukannya tidak bertemu lagi selepas ini, namun suasana sayu pagi tadi begitu berbekas di hati ana. mengambil kesempatan terakhir untuk bersalam-salaman. tak sedar airmata mengalir saat menghadiahkan peluk cium buat ahli bait tercinta...tangan dihulur maaf dipinta..untuk Ramadhan yang Syawal selepas ini pasti berbeza tanpa kehadiran mereka.
ana akan pulang petang nanti. usai sahaja majlis iftor PERKUM, selesai tanggungjawab ana, ana akan mengatur langkah untuk pulang ke Rawang dan bertolak selepas subuh esok.InsyaAllah...doakan perjalanan ana dan family.
Selepas raya mungkin punya peluang untuk mengemas kembali teratak ini. jadi di kesempatan ini, ana mengambil ruang dan peluang memohon ampun maaf.buat sahabat2,teman2, adik2,abang2,kakak2 juga sesiapa sahaja yang sudi menjenguk teratak ana juga buat yang mengenali ana secara langsung, mohon maaf atas salah dan silap sepanjang perkenalan.
Moga semangat Ramadhan terus membara biarpun kita sudah keluar daripada madrasah ini nanti. Moga Ramadhan kali ini menjadikan insan yang lebih berkualiti dari sudut iman, taqwa, akhlak dan peribadi serta seluruhnya.doakan kita sama-sama terus istiqamah selepas ini.
Buat semua Jemput ke rumah berhari raya nanti..
Salam Eid MuBarak
Minal 'aidil wal faiziiin..Kullu 'aam wa antum bikhair...
Hati2 Pulang Beraya...Moga Selamat Sampai bersama ayahbonda juga insan2 tersayang.
Assalamualaikum...


KPI RaMaDHaN: Di MaNa KiTa?


HARI ini sudah 26 hari umat Islam menunaikan ibadat puasa Ramadan. 3 hari lagi, seluruh Muslim akan menyambut hari kemenangan, Aidilfitri.Pada penghujung Ramadan ini, apabila kedudukan kita sebagai umat Islam dalam menjalani ibadat berpuasa, adakah semakin bersemangat atau sudah lembik?Jika mengikut Indek Prestasi Kerja (KPI), adakah kita sudah mencapai standard yang ditetapkan Allah atau masih jauh dari sasaran?Jika kita teguh dengan kata-kata, pada awal Ramadan rahmat, dipertengahannya mendapat keampunan dan hujungnya dijauhkan daripada api neraka, Alhamdulillah kita di jalan yang betul.

Bagaimanapun, jika pada awalnya saja bersemangat, tetapi di pertengahan lemah dan di hujungnya terkulai, rugilah ibadat puasa yang dijalankan sepanjang Ramadan.
Melihat tabiat umat Islam di negara ini setiap kali kehadiran Ramadan, kadangkala kita tertanya-tanya, apakah mereka faham tujuan berpuasa Ramadan.Jika meninjau kebanyakan masjid, pada awal Ramadan, jemaah penuh menunaikan solat Tarawih, tetapi pada pertengahan dan hujungnya, jumlah mereka tinggal separuh daripada kapisiti jemaah.Mengapa perkara itu boleh berlaku? Jika pada awal Ramadan, masjid penuh dengan jemaah yang menunaikan solat Tarawih, sepatutnya di pertengahan dan hujungnya, keadaan adalah sama.


Tetapi, sayangnya tidak begitu. Kebanyakan masjid suram di hujung Ramadan. Ramai umat Islam sibuk membuat persiapan Aidilfitri, membuat kuih raya, bermain mercun atau berpusu-pusu ke pusat beli-belah.Justeru, di mana KPI berpuasa mereka sepanjang Ramadan ini? Perunding Motivasi Human-Touch Consultant, Mohd Zawawi Yusoh, berkata sebahagian umat Islam semakin hilang stamina beribadat dan jumlah jemaah menunaikan solat tarawih merudum pada hujung Ramadan."Malah, jemaah makin maju ke depan, sebabnya di belakang sudah kosong dan makin kurang jemaah."Sepatutnya makin ke hujung Ramadan makin seronok dengan janji fadilat Ramadan," katanya.Persoalannya, mengapa fenomena begini berlaku dan tidak serupa semaraknya ketika awal dahulu?
Ibadat yang dilakukan bukan saja berkurang kuantitinya malah kualitinya boleh dipersoalkan. Mengapa umat Islam di negara ini tidak mahu mencari fadilat pada 10 malam terakhir Ramadan yang terkandung satu malam yang sangat berkat, iaitu Lailatul Qadar?Daripada Aisyah r.a katanya: "Rasulullah s.a.w memperbanyakkan amalan apabila sampai hari yang ke-10 terakhir Ramadan, Baginda juga membangunkan isterinya agar beribadat (solat sunat, membaca al-Quran, berzikir dan lainnya). Baginda juga menjauhkan diri daripada bergaul serta bermesra dengan isterinya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)Menurut ulama, Lailatul Qadar kemuncak Ramadan kerana kemuliaannya yang diterangkan di dalam al-Quran dan hadis Nabi s.a.w, malah malam berkenaan dirakamkan khusus dalam satu surah dalam al-Quran.
Orang yang tekun beribadat pada 10 malam yang berkenaan akan mendapat rahmat dijanjikan kerana sudah sabit dalam hadis yang sahih, Lailatul Qadar wujud pada satu daripada 10 malam itu.Justeru, orang yang tekun beribadat pada 10 malam terbabit akan mendapat rahmat yang dijanjikan itu, sama ada dia menemuinya atau tidak. Jika bertemunya, berdoa untuk kebaikan, kesejahteraan dan keampunan. Mohd Zawawi berkata, generasi salafussoleh dahulu makin tidak senang duduk apabila Ramadan makin memasuki penghujung kerana bersemangat hingga bergilir tidur, bangun dan saling mengejutkan yang lain untuk qiamullail."Boleh jadi juga tanggapan tak betul dalam menghayati ibadat Ramadan. Kalau beribadat hanya ikutan sahaja, dorongan memang tak kuat. Bukan sahaja tak kuat, tetapi tak dapat bertahan, hanya main ikut 'mood'."Hari ada 'mood', beribadat bukan main manakala hari tak ada 'mood' main-main pula beribadat," katanya, sambil menegaskan: "Beribadat bukannya boleh dibuat main-main sebab ibadat hendak masuk syurga."Hadis Nabi s.a.w bermaksud: "Jalan ke syurga penuh dengan duri manakala jalan ke neraka penuh dengan seronok dan lalai." Solat katanya, memang duri bagi mereka yang tidak bersungguh-sungguh, manakala Tarawih beratnya dirasa seperti ditusuk duri."Duduk lama sedikit ketika bertadarus tidak tahan, sebab terasa macam duri," katanya.Beliau berkata, dek salah faham antara makna Ramadan dan bulan puasa juga menjadi sebab kenapa ramai cepat sangat malas menggandakan ibadat?"Kalau difahami ini bulan puasa, seolah-olah bulan ini hanya untuk puasa. Orang ajak buat kerja lebih sedikit, dia kata ini bulan puasalah. "Apabila diajak bergotong-royong, dijawab ini bulan puasalah dan bila hendak buat kursus ketika bulan puasa, terus disanggahnya, 'ini bulan puasa', seolah-olah bulan ini bulan rehat saja."Berbeza dengan kefahaman Ramadan, sebab apabila difahami ini Ramadan bermakna bulan ini bukan hanya untuk berpuasa."Malah, bulan ini menjadi penghulu segala bulan kerana sangat banyak ibadat yang perlu dilakukan sebagai pakej," katanya.

Menurutnya, bulan ini juga adalah bulan mencipta prestasi kerana dalam sejarah Islam, perang pertama berlaku dalam keadaan lapar kerana berpuasa."Boleh jadi juga semakin tidak bersemangat sebab jahil mengenai ganjaran dan nilai yang terkandung dalam ibadat pada Ramadan. "Inilah akibatnya tak bersedia dengan ilmu ketika menyambut kedatangan Ramadan. Tak baca dan menelaah kembali hakikat tawaran Allah."Sehingga yang terpikat bukannya tawaran Allah, tetapi lebih kepada jualan murah 'beli dan belah'. Membeli bukan main sakan, tetapi bab ibadat asyik belah saja," katanya.

Kekurangan stamina sebelum Ramadan lagi, katanya, menjadi satu lagi punca yang menyebabkan momentum beribadat ketika Ramadan tidak begitu stabil."Benarlah doa Nabi s.a.w yang bermaksud: "Ya Allah berkatkan Rejab dan Sya'ban serta panjangkan umur sehingga Ramadan.""Rupanya kerajinan beribadat sepatutnya sudah bermula persiapannya sejak Rejab lagi dan kalau ikut sepatutnya memang sejak baligh lagi sudah kena rajin beribadat. "Kalau sudah mula berazam nutuk bersungguh ketika Rejab lagi taklah terkejut melayani dan menangani jadual ibadat Ramadan. "Bayangkan kalau jarang ke masjid, tetapi bila saja tiba puasa hendak berterusan 30 hari ke masjid. "Rasanya, mungkin tak larat. Begitu juga dengan membaca al-Quran, berbulan-bulan tak ada jadual membaca al-Quran, tiba-tiba hendak khatam 30 juzuk, memang berat sangatlah," katanya.

Tanggapan sesetengah pihak yang berasakan usianya masih panjang dan muda juga menyebabkan ibadat Ramadan tidak dilakukan bersungguh-sungguh sehingga ke akhir bulan. "Sekarang masa bersuka ria, masih bujang lagi, nanti apabila sudah kahwin atau bila tua barulah ibadat betul-betul dan ini pun satu punca tidak bersungguh dalam beribadat. "Kalau yang muda terasa masih awal serta banyak lagi peluang dan ruang, kerenah yang tua pula mula pasang angan-angan walaupun ramai teman taulan sudah jalan."Mati bukan ikut usia dan penyakit, tetapi rahsia Allah. Marilah pada kesempatan Ramadan yang masih berbaki kita bersungguh-sungguh menggandakan ibadat."Ini supaya kita berasakan kehangatan pesta ibadat menjadi hiburan dan pengisian rohani agar bersiap dengan bekal mencukupi di alam selepas dibangkitkan semula," katanya.
NOTA buat da'ei. Apabila kita sendiri diuji dengan apa yang sering kita dakwahkan, itu petanda Allah sedang mendidik kita agar melaksanakan apa yang kita perkatakan. Bersyukurlah kerana Allah masih sudi mengingati kita dalam usaha kita mengingatkan manusia. -khas buat diri yang faqir ini-