06 Oktober 2009

JaNGaN DiTaNGiSi aPa YaNG BuKaN MiLiKmu..

Salam ukhuwwah dan salam kasih sayang. salam ketenangan di pertengahan Syawal. moga minda lebih positif mendepani jaluran kehidupan yang berliku-liku...ana sertakan artikel yang ada dapat daripada rakan.harapnya bahasa yang terarah lebih kepada dialek indonesia tidak merumitkan sahabat-sahabat untuk memahami artikel ini...insyaAllah.

Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan pada ketenteraman jiwa.
Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang.
Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki.
Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya."Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat mencintainya." Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)
Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!
Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu, majlis-majlis dzikir yang akan mengantarkan pada ketenteraman jiwa.Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya."Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat mencintainya." Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)
Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.
Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

02 Oktober 2009

...KeRaNa aKu iNSaN BiaSa...

Saat kata-kata tak punya makna
biar letih bibir
menutur kata
tetap tidak berguna
saat diri hilang hak
membela...mempertahan diri
tiada erti lagi airmata
walau selaut dicurahkan
dimana perginya simpati
kemana hilang belas kasihan
luputnya persefahaman
kepentingan diri diutamakan
perasaan sendiri difikirkan
bagaimana harus aku katakan
bahawa aku cuma manusia biasa
alpa..lalai..leka..dan
lupa itulah fitrahku
yang aku pinta bukan
sindiran atau cemuhan
tapi teguran..nasihat berhikmah
yang mampu mengejutkan aku
dari kealpaan dan salah langkah
kerana aku
tiada upaya untuk sentiasa melihat
dan merasa
setiap tindakanku yang adakalanya
di luar batasan
andai kata maaf
mampu menjernih suasana
mengembalikan kemesraan
ku susun jari sepuluh
dengan kerendahan hati
ku pohon ampun maaf
kemaafan itu harapnya menjadi milikku
kerana aku insan biasa
yang punya rasa dan jiwa...

16 September 2009

:.:TiTiPaN MeSRa MeNJeLaNG HaRi KeMeNaNGaN:.:



Salam ukhuwwah dan salam kasih sayang.Salam kesayuan menjelang berlabuhnya tirai Ramadhan. apakah akan ada lagi Ramadhan untuk ana dan kita nanti. Ramadhan kali ini sangat bermakna. Ramadhan terakhir ana sebagai seorang pelajar. Masa di isi sebanyak mungkin dengan program yang mampu mengukir satu kenangan indah bilamana ana tidak lagi disini kelak. Ramadhan yang agak berbeza bilamana ana dan sahabat mampu mengisinya dengan kemanisan ukhuwwah yang sejati. dan hari ini, kami akan membawa haluan masing-masing untuk pulang ke kampung. bukannya tidak bertemu lagi selepas ini, namun suasana sayu pagi tadi begitu berbekas di hati ana. mengambil kesempatan terakhir untuk bersalam-salaman. tak sedar airmata mengalir saat menghadiahkan peluk cium buat ahli bait tercinta...tangan dihulur maaf dipinta..untuk Ramadhan yang Syawal selepas ini pasti berbeza tanpa kehadiran mereka.
ana akan pulang petang nanti. usai sahaja majlis iftor PERKUM, selesai tanggungjawab ana, ana akan mengatur langkah untuk pulang ke Rawang dan bertolak selepas subuh esok.InsyaAllah...doakan perjalanan ana dan family.
Selepas raya mungkin punya peluang untuk mengemas kembali teratak ini. jadi di kesempatan ini, ana mengambil ruang dan peluang memohon ampun maaf.buat sahabat2,teman2, adik2,abang2,kakak2 juga sesiapa sahaja yang sudi menjenguk teratak ana juga buat yang mengenali ana secara langsung, mohon maaf atas salah dan silap sepanjang perkenalan.
Moga semangat Ramadhan terus membara biarpun kita sudah keluar daripada madrasah ini nanti. Moga Ramadhan kali ini menjadikan insan yang lebih berkualiti dari sudut iman, taqwa, akhlak dan peribadi serta seluruhnya.doakan kita sama-sama terus istiqamah selepas ini.
Buat semua Jemput ke rumah berhari raya nanti..
Salam Eid MuBarak
Minal 'aidil wal faiziiin..Kullu 'aam wa antum bikhair...
Hati2 Pulang Beraya...Moga Selamat Sampai bersama ayahbonda juga insan2 tersayang.
Assalamualaikum...


KPI RaMaDHaN: Di MaNa KiTa?


HARI ini sudah 26 hari umat Islam menunaikan ibadat puasa Ramadan. 3 hari lagi, seluruh Muslim akan menyambut hari kemenangan, Aidilfitri.Pada penghujung Ramadan ini, apabila kedudukan kita sebagai umat Islam dalam menjalani ibadat berpuasa, adakah semakin bersemangat atau sudah lembik?Jika mengikut Indek Prestasi Kerja (KPI), adakah kita sudah mencapai standard yang ditetapkan Allah atau masih jauh dari sasaran?Jika kita teguh dengan kata-kata, pada awal Ramadan rahmat, dipertengahannya mendapat keampunan dan hujungnya dijauhkan daripada api neraka, Alhamdulillah kita di jalan yang betul.

Bagaimanapun, jika pada awalnya saja bersemangat, tetapi di pertengahan lemah dan di hujungnya terkulai, rugilah ibadat puasa yang dijalankan sepanjang Ramadan.
Melihat tabiat umat Islam di negara ini setiap kali kehadiran Ramadan, kadangkala kita tertanya-tanya, apakah mereka faham tujuan berpuasa Ramadan.Jika meninjau kebanyakan masjid, pada awal Ramadan, jemaah penuh menunaikan solat Tarawih, tetapi pada pertengahan dan hujungnya, jumlah mereka tinggal separuh daripada kapisiti jemaah.Mengapa perkara itu boleh berlaku? Jika pada awal Ramadan, masjid penuh dengan jemaah yang menunaikan solat Tarawih, sepatutnya di pertengahan dan hujungnya, keadaan adalah sama.


Tetapi, sayangnya tidak begitu. Kebanyakan masjid suram di hujung Ramadan. Ramai umat Islam sibuk membuat persiapan Aidilfitri, membuat kuih raya, bermain mercun atau berpusu-pusu ke pusat beli-belah.Justeru, di mana KPI berpuasa mereka sepanjang Ramadan ini? Perunding Motivasi Human-Touch Consultant, Mohd Zawawi Yusoh, berkata sebahagian umat Islam semakin hilang stamina beribadat dan jumlah jemaah menunaikan solat tarawih merudum pada hujung Ramadan."Malah, jemaah makin maju ke depan, sebabnya di belakang sudah kosong dan makin kurang jemaah."Sepatutnya makin ke hujung Ramadan makin seronok dengan janji fadilat Ramadan," katanya.Persoalannya, mengapa fenomena begini berlaku dan tidak serupa semaraknya ketika awal dahulu?
Ibadat yang dilakukan bukan saja berkurang kuantitinya malah kualitinya boleh dipersoalkan. Mengapa umat Islam di negara ini tidak mahu mencari fadilat pada 10 malam terakhir Ramadan yang terkandung satu malam yang sangat berkat, iaitu Lailatul Qadar?Daripada Aisyah r.a katanya: "Rasulullah s.a.w memperbanyakkan amalan apabila sampai hari yang ke-10 terakhir Ramadan, Baginda juga membangunkan isterinya agar beribadat (solat sunat, membaca al-Quran, berzikir dan lainnya). Baginda juga menjauhkan diri daripada bergaul serta bermesra dengan isterinya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)Menurut ulama, Lailatul Qadar kemuncak Ramadan kerana kemuliaannya yang diterangkan di dalam al-Quran dan hadis Nabi s.a.w, malah malam berkenaan dirakamkan khusus dalam satu surah dalam al-Quran.
Orang yang tekun beribadat pada 10 malam yang berkenaan akan mendapat rahmat dijanjikan kerana sudah sabit dalam hadis yang sahih, Lailatul Qadar wujud pada satu daripada 10 malam itu.Justeru, orang yang tekun beribadat pada 10 malam terbabit akan mendapat rahmat yang dijanjikan itu, sama ada dia menemuinya atau tidak. Jika bertemunya, berdoa untuk kebaikan, kesejahteraan dan keampunan. Mohd Zawawi berkata, generasi salafussoleh dahulu makin tidak senang duduk apabila Ramadan makin memasuki penghujung kerana bersemangat hingga bergilir tidur, bangun dan saling mengejutkan yang lain untuk qiamullail."Boleh jadi juga tanggapan tak betul dalam menghayati ibadat Ramadan. Kalau beribadat hanya ikutan sahaja, dorongan memang tak kuat. Bukan sahaja tak kuat, tetapi tak dapat bertahan, hanya main ikut 'mood'."Hari ada 'mood', beribadat bukan main manakala hari tak ada 'mood' main-main pula beribadat," katanya, sambil menegaskan: "Beribadat bukannya boleh dibuat main-main sebab ibadat hendak masuk syurga."Hadis Nabi s.a.w bermaksud: "Jalan ke syurga penuh dengan duri manakala jalan ke neraka penuh dengan seronok dan lalai." Solat katanya, memang duri bagi mereka yang tidak bersungguh-sungguh, manakala Tarawih beratnya dirasa seperti ditusuk duri."Duduk lama sedikit ketika bertadarus tidak tahan, sebab terasa macam duri," katanya.Beliau berkata, dek salah faham antara makna Ramadan dan bulan puasa juga menjadi sebab kenapa ramai cepat sangat malas menggandakan ibadat?"Kalau difahami ini bulan puasa, seolah-olah bulan ini hanya untuk puasa. Orang ajak buat kerja lebih sedikit, dia kata ini bulan puasalah. "Apabila diajak bergotong-royong, dijawab ini bulan puasalah dan bila hendak buat kursus ketika bulan puasa, terus disanggahnya, 'ini bulan puasa', seolah-olah bulan ini bulan rehat saja."Berbeza dengan kefahaman Ramadan, sebab apabila difahami ini Ramadan bermakna bulan ini bukan hanya untuk berpuasa."Malah, bulan ini menjadi penghulu segala bulan kerana sangat banyak ibadat yang perlu dilakukan sebagai pakej," katanya.

Menurutnya, bulan ini juga adalah bulan mencipta prestasi kerana dalam sejarah Islam, perang pertama berlaku dalam keadaan lapar kerana berpuasa."Boleh jadi juga semakin tidak bersemangat sebab jahil mengenai ganjaran dan nilai yang terkandung dalam ibadat pada Ramadan. "Inilah akibatnya tak bersedia dengan ilmu ketika menyambut kedatangan Ramadan. Tak baca dan menelaah kembali hakikat tawaran Allah."Sehingga yang terpikat bukannya tawaran Allah, tetapi lebih kepada jualan murah 'beli dan belah'. Membeli bukan main sakan, tetapi bab ibadat asyik belah saja," katanya.

Kekurangan stamina sebelum Ramadan lagi, katanya, menjadi satu lagi punca yang menyebabkan momentum beribadat ketika Ramadan tidak begitu stabil."Benarlah doa Nabi s.a.w yang bermaksud: "Ya Allah berkatkan Rejab dan Sya'ban serta panjangkan umur sehingga Ramadan.""Rupanya kerajinan beribadat sepatutnya sudah bermula persiapannya sejak Rejab lagi dan kalau ikut sepatutnya memang sejak baligh lagi sudah kena rajin beribadat. "Kalau sudah mula berazam nutuk bersungguh ketika Rejab lagi taklah terkejut melayani dan menangani jadual ibadat Ramadan. "Bayangkan kalau jarang ke masjid, tetapi bila saja tiba puasa hendak berterusan 30 hari ke masjid. "Rasanya, mungkin tak larat. Begitu juga dengan membaca al-Quran, berbulan-bulan tak ada jadual membaca al-Quran, tiba-tiba hendak khatam 30 juzuk, memang berat sangatlah," katanya.

Tanggapan sesetengah pihak yang berasakan usianya masih panjang dan muda juga menyebabkan ibadat Ramadan tidak dilakukan bersungguh-sungguh sehingga ke akhir bulan. "Sekarang masa bersuka ria, masih bujang lagi, nanti apabila sudah kahwin atau bila tua barulah ibadat betul-betul dan ini pun satu punca tidak bersungguh dalam beribadat. "Kalau yang muda terasa masih awal serta banyak lagi peluang dan ruang, kerenah yang tua pula mula pasang angan-angan walaupun ramai teman taulan sudah jalan."Mati bukan ikut usia dan penyakit, tetapi rahsia Allah. Marilah pada kesempatan Ramadan yang masih berbaki kita bersungguh-sungguh menggandakan ibadat."Ini supaya kita berasakan kehangatan pesta ibadat menjadi hiburan dan pengisian rohani agar bersiap dengan bekal mencukupi di alam selepas dibangkitkan semula," katanya.

15 September 2009

..:MaHaSiSWa MaLaS MeMBaCa???:..

Salam ukhuwwah dan salam kasih sayang. Ramadhan kini sudah hampir kepada penghujungnya.terasa begitu cepat masa berlalu.semalam berkesempatan bersama-sama menyertai majlis berbuka puasa bersama rakan sekelas. sementara menunggu waktu berbuka, ana sempat menyelak akhbar Harian Metro. tiba-tiba bila saja membuka ruangan bestari,terpampang tajuk besar"Mahasiswa Malas Membaca".lantas ana dan sahabat2 membincangkan kerelevanan tajuk tersebut.lalu teringat kata-kata yang sering diungkapkan oleh sifu kami, Prof Suradi Salim.beliau selalu mengatakan bahawa mahasiswa kini sangat malas untuk membaca. belajar hanya untuk lulus periksa dan kemudian apabila keluar wujudlah individu yang disebut sebagai 'good for nothing'.tempoh 3-4 tahun yang diperuntukkan di universiti belum tentu boleh menjadi indicator kepada bijak dan pintarnya seorang mahasiswa menguasai ilmu pengetahuan. terasa berbahang muka bilamana dikata begitu namun ana akui itu adalah hakikat mahasiswa kini. ana sendiri kurang mendepani isu, namun dikalangan mahasiswa yang malas membaca itu ana bukanlah orangnya.insyaAllah...
jadi disini, ana kongsikan artikel yang diterbitkan mengenai isu ini. moga mahasiswa/i lebih seronok membaca dan menguasi ilmu daripada melakukan perkara yang tidak sepatutnya.harapnya jangan sampai suatu hari nanti level mahasiswa sama dengan mereka yang menghabiskan masa merayau-rayau dijalanan...

"BUKU mengasuh diri sasa bersuara, membaca menjadi jambatan bertuah, kita merindu buku dan ghairah baca, agar sentiasa canggih dan berhemah". Itulah kata-kata Sasterawan Negara, Datuk Dr A Samad Said menggambarkan betapa pentingnya membaca.
Selain itu, kempen membaca setiap tahun menunjukkan budaya membaca perlu ditanam dalam masyarakat terutama pelajar.Namun, sejauh mana kempen itu memberi impak dan kesedaran kepada masyarakat terutama mahasiswa institusi pengajian tinggi (IPT)? Benarkah berlaku kegersangan minat membaca di kalangan mahasiswa sehingga ia dijadikan topik perbincangan Wacana Malaysia Membaca di Fakulti Pengurusan Maklumat, Universiti Teknologi Mara (UiTM), Shah Alam, Selangor, baru-baru ini.Majlis anjuran pelajar semester empat jurusan Sarjana Muda Sains Pengurusan Maklumat, Pengurusan Pusat Sumber itu mendedahkan kepincangan membaca di kalangan mahasiswa.Tetapi pelik juga, mengapa mereka yang melanjutkan pelajaran di menara gading itu tiada minat membaca?Jika tidak membaca, bagaimana mampu memperoleh diploma atau ijazah? A Samad melihat senario golongan muda khususnya pelajar IPT hanya membaca buku teks untuk mendapatkan segulung ijazah dan selepas itu, mereka tidak lagi membaca.Kebanyakan pelajar masa kini juga ghairah membaca bahan bacaan sia-sia, hiburan dan berbau seksual. Tetapi, apa faedah pelajar peroleh daripada bahan bacaan sedemikian?"Banyak ilmu diperoleh daripada membaca dan buku adalah sumber ilmu sangat berharga, bukan sekadar lulus peperiksaan," katanya. Pensyarah Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Khairusy Syakirin Has Yun Hashim, berkata secara persepsinya, pelajar universiti kurang membaca dan hanya berkepit dengan buku bersifat ilmiah.Beliau berkata, mereka membaca hanya untuk lulus peperiksaan serta memenuhi kriteria pemarkahan kerja kursus.Namun, berdasarkan kajian terhadap 42 pelajar IPT mendapati mereka minat membaca walaupun skop tertumpu kepada karya fiksyen.
"Kesimpulan daripada kajian ini membuktikan pelajar membaca lebih daripada lima buku setahun."Kajian itu turut mengubah kajian yang pernah dilakukan Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) satu ketika dulu yang mengatakan rakyat di negara ini hanya membaca dua buku setahun," katanya.Namun, dari segi pembelian bahan bacaan di kalangan pelajar, hanya 48 peratus pelajar membeli buku dan baki 52 peratus tidak membeli buku."Ini bukan bermakna pelajar tidak membaca, sebaliknya kebanyakan mereka menggunakan perpustakaan universiti atau koleksi keluarga sebagai sumber mendapatkan bahan bacaan."Kebanyakan pelajar mahu membeli buku tetapi faktor harga membantut hasrat mereka, akhirnya mereka tidak membeli apa-apa."Kebanyakan buku ilmiah yang diimport mahal dan di perpustakaan, jumlahnya kecil berbanding mereka yang meminjam," katanya.
Justeru, bagi menangani masalah itu dan menambah minat membaca, Khuirusy menyarankan gerakan membaca perlu lebih digiatkan terutama di kalangan pelajar."Wujudkan pengurusan pembacaan di universiti sebagai lambang kepada bermulanya satu generasi baru yang minat dan menyintai buku," katanya.
Bagi bekas Pegawai Perancangan Bahasa Kanan, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Datuk Jaafar Abdul Rahim, kegersangan minat membaca di kalangan pelajar IPT memang ada tetapi itu tidak penting.Menurutnya, apa yang perlu difokuskan adalah mereka yang minat membaca dan pelajar patut memburu gelaran pakar buku dengan membuka pemikiran melalui pembacaan dalam pelbagai bidang."Biasanya kita memperdebatkan mereka yang tidak minat membaca tetapi bagaimana pula mereka yang gila membaca?"Dengan membaca, mereka punya idea selain membangunkan karakter seseorang."Justeru, saya meminta pensyarah memberi markah lebih kepada pelajar yang memberikan idea bernas, bukan 100 peratus daripada nota," katanya.Jaafar berkata, ilmu berubah setiap masa dan ia mengikut peredaran masa. Justeru, sebagai masyarakat terutama pelajar, kita perlu mendapatkan ilmu itu dengan membaca.
"Pembacaan bahan bacaan tidak akan mati walaupun teknologi kini semakin canggih kerana walau apapun yang terjadi, buku akan kekal menjadi sumber ilmu sampai bila-bila," katanya.Sementara itu, bagi pelajar tahun akhir Pengurusan Maklumat, Mohd Nabil Zulhemay, 24, berkata minat membaca itu akan lahir jika bahan bacaan itu difahami selain diminati.Bagaimanapun, daripada minat sebenar pelajar untuk membaca, katanya, kebanyakan pelajar hanya membaca buku untuk mendapatkan ijazah."Sebagai pelajar, saya tidak menafikan kebenaran terhadap kerisauan A Samad itu kerana pelajar hanya membaca untuk lulus peperiksaan."Mereka gemar keluar dengan rakan atau menghabiskan masa melakukan aktiviti lain selain membaca. Jika membaca pun, majalah hiburan," katanya
NOTA buat da'ei. Apabila kita sendiri diuji dengan apa yang sering kita dakwahkan, itu petanda Allah sedang mendidik kita agar melaksanakan apa yang kita perkatakan. Bersyukurlah kerana Allah masih sudi mengingati kita dalam usaha kita mengingatkan manusia. -khas buat diri yang faqir ini-